Sabtu, 28 Juni 2014

GURU SANG PENGANTAR



JANGAN PAKSA ANAK DIDIK SAMA DENGAN KITA
OLEH:
 HERY SARWANTO,S.Pd,M.Si

            Menurut Driyarkara pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia muda,sehingga merupakan kewajiban bagi kita yang lebih dewasa untuk memberikan upaya yang terbaik untuk menyampaikan pendidikan kepada anak-anak untuk masa depan mereka. Pengelolaan waktu yang efesien dan tepat merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan, agar mereka terbiasa bertanggung jawab terhadap diri maupun orang lain di masa yang akan datang. Semakin hari seiring dengan pertumbuhan yang dialami akan membawa penambahan masalah yang semakin kompleks,sehingga membutuhkan kematangan diri dan pengendalian emosi dengan penggunaan logika pemikiran yang baik.
            Pada saat anak memasuki usia pendidikan formal sangat dibutuhkan kejelian dan kemampuan khusus untuk melakukan eksplorasi terhadap potensi yang dimiliki oleh siswa agar mendapatkan hasil kualitas diri yang maksimal tanpa ada keterpaksaan dan penodaan terhadap nilai- nilai moralitas.Di dalam teori pendidikan ( KONVERGENSI ) disampaikan bahwa anak manusia yang dibekali dengan bakat ternyata harus di arahkan melalui pendidikan yang sesuai dan cocok untuk karakter dan potensi yang dimiliki oleh anak didik. Dari hasil bimbingan yang benar yang di- lakukan oleh guru  akan mampu membangkitkan motivasi dan karakter diri yang tinggi untuk berjuang melakukan perbaikan terhadap kualitas diri baik secara lahir maupun batin. Prestasi akan datang sendiri sesuai dengan potensi dan fitrah dari Allah SWT apabila kita sudah melaksanakan proses pembimbingan secara rutin dengan benar dan konseptual.
 PENDIDIK SEBAGAI  JEMBATAN
            Peran sentral yang dilakoni oleh pendidik adalah sebagai penyampai informasi dan penghubung antara kegelapan dan terangnya informasi keilmuan. Artinya pula guru menjembatani antara kebutaan ilmu pengetahuan dengan terangnya akan ilmu, sehingga harus ada wawasan yang luas yang dimiliki guru agar mampu mengantarkan peserta didik menuju dunia yang lebih universal dan ketat akan persaingan hidup. Sang pendidik harus mau mengantarkan siapapun tanpa pandang bulu menuju target masa depan obyek didik.
            Hal penting yang seharusnya kita miliki adalah kemampuan untuk mengerti dan menyadari bahwa anak asuh kita tidak akan pernah sama dengan kita sehingga bagaimanapun kita tidak boleh membuat peserta didik menjadi kita. Masalah yang timbul bila siswa ditekan demikian ketat untuk mencapai maksud pendidik adalah sebuah kehancuran karena keliru proses dan arah pendidikan. Seorang guru mengajar mata pelajaran X memaksakan pelajaran yang disampaikan harus istimewa dikuasai siswa, sedangkan guru Y,Z,A,B,C juga demikian sama memaksa peserta didiknya untuk hasil yang sangat baik kepada siswanya, tentunya hal yang sangat berat harus dipikul oleh siswa selama menjalani proses pembelajaran di sekolah. Padahal seharusnya kita para pelaku pendidikan hanya menjadi penghantar anak- anak peserta didik menuju lembar kesuksesan.
            Batasan kesuksesan seorang anak tentunya tidak bias digeneralissi antara satu dengan yang lain. Ada yang bilang berhasil bila dapat nilai metematika 8, ada yang kalau dapat nilai bahasa Inggris 8, tapi ada yang mengatakan berhasil bila sudah bisa menari atau di katakana berhasil bila masuk menjadi tim olah raga kabupaten, dll. Dengan banyaknya ragam batasan keberhasilan tentunya sebagai guru kita harus membekali diri dengan niat untuk mengantarkan anak didik kita ke jalan sukses mereka masing – masing dengan jalan yang akan di tempuh berbeda pula. Kita harus menggali potensi yang ada pada anak dengan penuh keikhlasan sehingga akan tergali potensi yang ada  pada diri siswa. Jangan sampai terjadi bahkan anak didik di jadikan eksploitasi untuk kepentingan sekolah dengan di paksa untuk meraih nilai tinggi pada salah satu mapel sehingga tidak mempedulikan potensi yang anak miliki untuk di kembangkan. Bila yang terjadi demikian maka yang lahir adalah anak – anak bangsa yang tidak bisa inovatif dan cenderung menunggu di kendalikan orang lain.
Karena adanya niat terselubung , yaitu melakukan aktifitas tetapi tujuannya tidak ada keterbukaan, maka  yang akan terjadi adalah penerus bangsa yang selalu licik dan memanfaatkan segala sesuatu hanya untuk kepentingan dirinya.
Kiranya hal – hal yang penulis paparkan di atas layak menjadi bahan kajian untuk bahan pemikiran kita bersama yang bergelut di dunia pendidikan,dalam melakukan kegiatan mendidik anak- anak kita. Sehingga kita mampu mewarnai para remaja calon pemimpin bangsa untuk selalu berani melakukan inovasi dan berkarya  sesuai dengan bakat dan potensi diri yang mereka miliki masing – masing. Sebuah harapan pula kiranya para penerus bangsa terbentuk dengan kondisi yang ada di alam ini,mampu bertahahan dari goncangan yang menerpa dan selalu berfikir untuk menjadi anak- anak yang berguna bagi bangsa karena prestasi dan kemampuan yang mereka miliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar