PENDIDIKAN
SEBAGAI PENGANTAR ANAK DIDIK MENUJU PENDEWASAAN
OLEH:
HERY
SARWANTO,S.Pd,M.Si
Menurut Driyarkara pendidikan adalah
upaya untuk memanusiakan manusia muda,sehingga
merupakan kewajiban bagi kita yang lebih dewasa untuk memberikan upaya yang
terbaik untuk menyampaikan pendidikan kepada anak-anak untuk masa depan mereka.
Pengelolaan waktu yang efesien dan tepat merupakan hal yang sangat penting
untuk dilakukan, agar mereka terbiasa bertanggung jawab terhadap diri maupun
orang lain di masa yang akan datang. Semakin hari seiring dengan pertumbuhan
yang dialami akan membawa penambahan masalah yang semakin kompleks,sehingga membutuhkan
kematangan diri dan pengendalian emosi dengan penggunaan logika pemikiran yang
baik.
Pada saat anak memasuki usia pendidikan
formal sangat dibutuhkan kejelian dan kemampuan khusus untuk melakukan
eksplorasi terhadap potensi yang dimiliki oleh siswa agar mendapatkan hasil
kualitas diri yang maksimal tanpa ada keterpaksaan dan penodaan terhadap nilai-
nilai moralitas.. Prestasi akan datang sendiri sesuai dengan potensi dan
fitrah dari Allah SWT apabila
kita sudah melaksanakan proses pembimbingan secara rutin dengan benar dan
konseptual( TEORI KONVERGENSI).
PENDIDIK
SEBAGAI JEMBATAN
Peran sentral yang dilakoni oleh
pendidik adalah sebagai penyampai informasi dan penghubung antara kegelapan dan
terangnya informasi keilmuan. Artinya pula guru menjembatani antara kebutaan
ilmu pengetahuan dengan terangnya akan ilmu, sehingga harus ada wawasan yang
luas yang dimiliki guru agar mampu mengantarkan peserta didik menuju dunia yang
lebih universal dan ketat akan persaingan hidup. Sang pendidik harus mau
mengantarkan siapapun tanpa pandang bulu menuju target masa depan obyek didik.
Seorang guru mengajar mata pelajaran
X memaksakan pelajaran yang disampaikan harus istimewa dikuasai siswa,
sedangkan guru Y,Z,A,B,C juga demikian sama memaksa peserta didiknya untuk hasil yang sangat
baik kepada siswanya,
tentunya hal yang sangat berat harus dipikul oleh siswa selama menjalani proses
pembelajaran di sekolah. Padahal seharusnya kita para pelaku pendidikan hanya
menjadi penghantar anak- anak peserta didik menuju lembar kesuksesan.
Batasan kesuksesan seorang anak
tentunya tidak bias digeneralissi antara satu dengan yang lain. Ada yang bilang
berhasil bila dapat nilai metematika 8, ada yang kalau dapat nilai bahasa
Inggris 8, tapi ada yang mengatakan berhasil bila sudah bisa menari atau di
katakana berhasil bila masuk menjadi tim olah raga kabupaten, dll. Dengan banyaknya ragam
batasan keberhasilan tentunya sebagai guru kita harus membekali diri dengan
niat untuk mengantarkan anak didik kita ke jalan sukses mereka masing – masing
dengan jalan yang akan di tempuh berbeda pula. Kita harus menggali potensi yang
ada pada anak dengan penuh keikhlasan sehingga akan tergali potensi yang
ada pada diri siswa. Jangan sampai
terjadi bahkan anak didik di jadikan eksploitasi untuk kepentingan sekolah
dengan di paksa untuk meraih nilai tinggi pada salah satu mapel sehingga tidak
mempedulikan potensi yang anak miliki untuk di kembangkan. Bila yang terjadi
demikian maka yang lahir adalah anak – anak bangsa yang tidak bisa inovatif dan
cenderung menunggu di kendalikan orang lain.
Karena adanya niat terselubung , yaitu melakukan
aktifitas tetapi tujuannya tidak ada keterbukaan, maka yang akan terjadi adalah penerus bangsa yang
selalu licik dan memanfaatkan segala sesuatu hanya untuk kepentingan dirinya.
Kiranya hal – hal yang penulis paparkan di atas layak
menjadi bahan kajian untuk bahan pemikiran kita bersama yang bergelut di dunia
pendidikan,dalam melakukan kegiatan mendidik anak- anak kita. Sehingga kita
mampu mewarnai para remaja calon pemimpin bangsa untuk selalu berani melakukan
inovasi dan berkarya sesuai dengan bakat
dan potensi diri yang mereka miliki masing – masing. Sebuah harapan pula
kiranya para penerus bangsa terbentuk dengan kondisi yang ada di alam ini,mampu
bertahahan dari goncangan yang menerpa dan selalu berfikir untuk menjadi anak-
anak yang berguna bagi bangsa karena prestasi dan kemampuan yang mereka miliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar